Tampilkan postingan dengan label protes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label protes. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Februari 2014

Kisah Heroik Usman dan Harun

Tentara Nasional Indonesia menyematkan nama Usman dan Harun pada KRI baru mereka yang dibeli dari Inggris. Nama itu ditetapkan lewat diskusi panjang dan disahkan 12 Desember 2012.

Usman bin H Ali Hasan dan Harun bin Said bukan orang sembarangan. Keduanya anggota Korps Komando Operasi (kini disebut Marinir) berpangkat Sersan Dua dan Kopral yang menjalankan misi rahasia, menyusup ke Singapura, meledakkan bom di jantung negeri itu. Saat itu Indonesia tengah terlibat konfrontasi dengan Malaysia, dan Singapura masih menjadi bagian negeri jiran.

Rabu, 28 November 2012

Super Trap Edisi Toilet (Trans TV) Tak Bermoral, Terlalu !!!

Program televisi yang mengklaim diri sebagai acara yang benar-benar sangat menghibur, Minggu (25/11) kemarin tak lagi menjadi hiburan. Jebakan yang katanya kreatif dan membuat orang terpingkal-pingkal, justru menuai hujatan.

Pada edisi ini tim Super Trap membuat toilet umum yang diberi hidden camera. Toilet itu lalu diangkat dengan hidrolik sampai menembus atap. Orang sedang 'buang hajat' pun panik memakai celana sebelum sempat membersihkan diri.

Parahnya, Salah satu orang yang kena dalam jebakan ini bahkan belum sempat menutup auratnya. Sayang sekali, tim Super Trap justru tertawa puas melihat ekspresi para korbannya.

Ya! Super Trap edisi toilet kemarin pun lantas dihujani protes di media sosial. Mereka yang malam itu sempat menonton, menilai bahwa jebakan kali ini bukan lagi kreatif, tapi justru kelewat batas, tidak bermoral, dan melanggar privasi.

Kamis, 08 Desember 2011

Pemerintah Belanda Akhirnya Meminta Maaf Atas Kejadian Berdarah 9 Desember 1947

Besok, pada Jumat 9 Desember 2011, penantian panjang korban pembantaian Rawagede akan berakhir. Setelah 64 tahun ingkar, Pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf atas kejadian berdarah 9 Desember 1947 itu.

Kata "maaf" ini tak didapat dengan gratis, tapi dengan perjuangan hukum yang panjang, hingga ke negeri Belanda. Dua dari sembilan penggugat bahkan telah meninggal dunia, sebelum sempat menikmati kemenangan itu. Salah satunya, Saih bin Sakam, korban langsung dari tragedi tersebut.

Jeffrey Pondaag, Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB) yang pantang menyerah memperjuangkan kasus Rawagede menceritakan, asal mula keterlibat dalam kasus itu. "Bagi orang Indonesia yang tinggal di Belanda sejak tahun 1969, saya terkejut membaca dan melihat bagaimana Belanda menjelekan perjuangan kita," kata dia Kantor Komhas HAM, Jakarta, Kamis 8 Desember 2011.

Belanda bahkan punya sebutan kasar bagi para pejuang kemerdekaan, termasuk pada Soekarno. "Dikatakan sebagai perampok, ekstrimis dan teroris," kata dia.

Jeffrey merasa terpanggil untuk meluruskan sejarah. Pada tahun 2006 ia mengirim surat protes ke pemerintah Belanda, tanpa hasil. "Lalu ada satu komite dan pada 2006, mencari jalan untuk membuka ini (Rawagede) secara hukum," kata dia, yang lalu menghubungi seorang dosen untuk menyelidiki kasus ini.

Awalnya, menulis surat ke pemerintah Belanda untuk menyelesaikan kasus tersebut secara silaturahmi. Namun ditolak. Jalur hukum pun ditempuh.

Jeffrey menambahkan, tanpa dukungan dari masyarakat Belanda dan sejumlah orang di Indonesia, kasus ini tak akan jalan. "Donasi yang didapat dari Belanda langsung saya serahkan ke para janda di Rawagede. Banyak orang mengira saya mendapat income dari masalah ini, kami tetap bekerja secara sukarela," kata dia. "Jangan dikira kami mendapat keuntungan, ini bukan masalah pribadi tapi kebangsaan."

Di Belanda, Jeffrey menambahkan, Indonesia dianggap sebagai negara yang tak setara dengan negeri yang pernah menjajahnya. "Indonesia harus ambil sikap."

Sementara, Ketua Komnas HAM Ifdhal Kasim mengatakan, yang saat ini penting dilakukan adalah bagaimana para keluarga korban bisa menikmati hak mereka. "Bagaimana caranya mereka benar-benar memegang dana yang mereka berhak itu."

Dia menambahkan, permintaan maaf dan ganti rugi adalah hal yang bisa diberikan pemerintah Belanda. Sebuah kemenangan bagi semua pihak yang memperjuangkannya. "Kita sendiri, bukan pemerintah kita."• 



Rabu, 07 Desember 2011

Globalisasi dan teknologi modern kini memungkinkan gerakan sosial melampaui perbatasan secepat menjalarnya ide

New York - Gelombang protes yang berawal dari Tunisia pada Januari lalu menyebar ke Mesir, Spanyol, dan seluruh dunia hingga ke Wall Street dan kota-kota di Amerika Serikat. .

Protes sosial telah menemukan lahan subur di mana-mana: rasa bahwa "sistem" telah gagal dan keyakinan bahwa proses pemilihan dalam demokrasi tidak benar--setidaknya perlu tekanan kuat dari jalan.

Mei lalu, saya pergi ke Tunisia saat protes melanda negara tersebut. Juli, saya juga berbicara di Spanyol, dari sana saya menemui kaum muda di Tahrir Square, Kairo. Beberapa minggu lalu, saya berbicara dengan pengunjuk rasa di Wall Street, New York.

Ada tema yang dinyatakan oleh Occupy Wall Street Movement dalam kalimat sederhana, yaitu "Kami adalah 99 persen".

Slogan ini menggemakan judul sebuah artikel yang baru saja saya terbitkan berjudul "dari 1 persen, untuk 1 persen, dan 1 persen" yang menggambarkan ketidaksetaraan di Amerika Serikat. Sebanyak 1 persen dari populasi mengontrol lebih dari 40 persen kekayaan dan menerima 20 persen lebih dari pendapatan.

Orang-orang dalam strata ini sering dihargai karena begitu kaya. Namun mereka tidak memberikan kontribusi lebih untuk masyarakat bahkan dikenal sebagai pemburu rente.

Saya tidak menyangkal bahwa dari beberapa orang terkaya memberi kontribusi besar. Memang manfaat sosial dari banyaknya inovasi biasanya melebihi dari apa yang diterima oleh para penemu. Namun di seluruh dunia, pengaruh politik dan praktek anti-persaingan telah menjadi pusat peningkatan ketidaksetaraan ekonomi.

Dalam sistem pajak, seorang miliarder seperti Warren Buffett atau para spekulan, membayar pajak lebih rendah dibandingkan sekretarisnya bila dihitung dari persentase pendapatannya. Padahal mereka ikut terlibat dalam ambrolnya ekonomi global.

Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bagaimana gagasan-gagasan penting dan keadilan. Demonstran Spanyol dan pengunjuk rasa negara lain berhak untuk marah. Para bankir mendapat dana talangan, sementara mereka harus mengurus diri sendiri. Lebih buruk lagi, para bankir sekarang kembali pada posisi mereka dan mendapat bonus jauh lebih besar dari yang diimpikan para pekerja sepanjang hidup mereka. Sementara anak-anak muda yang giat belajar tak melihat prospek pekerjaan yang cerah.

Ketidaksetaraan ini seperti lingkaran setan; para pemburu rente menggunakan kekayaan untuk membuat undang-undang yang melindungi dan meningkatkan harta serta pengaruh mereka. Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan memberi kebebasan bagi korporasi untuk menggunakan uang mereka untuk mempengaruhi arah politik.

Di saat yang sama, polisi menghalau para demonstran yang berunjuk rasa di Wall Street melalui pengeras suara. Perbedaan antara banyaknya kebijakan demokrasi dan para bankir yang tidak diatur tidak diperhatikan. Namun para demonstran cerdik, melalui speaker, suara mereka terdengar di kerumunan sehingga saya bisa mendengarnya. Namun agar dialog tidak terganggu oleh suara tepuk tangan, mereka menggunakan sinyal tangan kuat untuk mengekspresikan persetujuan mereka.

Mereka benar bahwa ada sesuatu yang salah tentang "sistem" kita. Di seluruh dunia, sumber daya kita kurang dimanfaatkan, orang yang ingin bekerja, mesin menganggur, bangunan yang kosong. Banyak kebutuhan yang tak terpenuhi, seperti memerangi kemiskinan, mempromosikan pengembangan, dan memperkuat ekonomi untuk pemanasan global.

Di Amerika, setelah lebih dari tujuh juta rumah disita dalam beberapa tahun terakhir, rumah-rumah kosong dan banyak tunawisma. Para pengunjuk rasa telah dikritik karena tidak memiliki agenda.

Hal ini luput dari perhatian para demonstran. Mereka malah mengekspresikan rasa frustrasi pada proses pemilihan umum. Mereka adalah alarm.

Pada 1999, saat terjadi protes anti-globalisasi di Seattle, saat diresmikannya putaran baru perdagangan, yang membuat kegagalan global dan lembaga-lembaga internasional dan perjanjian yang mengatur itu, media melihat tuduhan para demonstran mengandung kebenaran. Negosiasi perdagangan dan Dana Moneter Internasional melakukan reformasi yang signifikan.

Begitu pula di Amerika, para pengunjuk rasa menuntut rasialisme dihapuskan pada 1960-an. Masalah warisan ini belum sepenuhnya diatasi, namun pemilihan Presiden Barack Obama menunjukkan seberapa jauh protes mereka menggerakkan Amerika.

Pada satu tingkat, pengunjuk rasa meminta sedikit kesempatan menggunakan keterampilan mereka, hak untuk bekerja dengan upah yang layak, adil dan ekonomi yang menggerakkan masyarakat. Harapan mereka adalah evolusioner, bukan revolusioner.

Namun pada tingkat lain, mereka meminta banyak: demokrasi ketika orang bukan uang, materi, maupun ekonomi pasar, yang memberikan apa yang seharusnya dilakukan. Keduanya berhubungan: seperti telah kita lihat, pasar bebas menyebabkan krisis ekonomi dan politik.

Pasar bekerja dengan beroperasi pada kerangka kerja peraturan pemerintah yang tepat dan kerangka kerja yang didirikan hanya dalam demokrasi yang mencerminkan kepentingan umum, bukan kepentingan segelintir orang saja. Pemerintahan yang baik, yang hanya bisa dibeli dengan uang, ternyata tak lagi cukup.

Penulis: Joseph E. Stiglitz

Stiglitz adalah profesor di Columbia University, seorang pemenang Nobel di bidang ekonomi, dan penulis Freefall: Pasar Bebas dan Tenggelamnya Ekonomi Global.

Copyright: Project Syndicate, 2011.
www.project-syndicate.org
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...