Tampilkan postingan dengan label UGM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UGM. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Kasus Plagiat, Anggito Serahkan Bukti ke Komite Etik UGM

"Jadi tidak betul tuduhan bahwa
saya menjiplak tulisan orang lain,"
Anggito Abimanyu mengaku punya cara sendiri untuk membuktikan dirinya bukan plagiator. Hari ini, Senin, 17 Februari 2014, dosen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ini akan menyerahkan sejumlah bukti yang membuktikan dirinya tak menjiplak tulisan orang lain.

“Saya akan serahkan fail-fail itu ke Komite Etik UGM,” kata Anggito kepada Tempo, Ahad, 16 Februari 2014.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementarian Agama itu mengaku memasrahkan semuanya kepada penelusuran Komite Etik UGM. Anggito berjanji akan menjelaskan lebih lenjut kepada media terkait tulisannya di harian nasional yang dianggap plagiat. (baca:Anggito Akan Buktikan Tulisannya Bukan Plagiat)

Kamis, 22 Maret 2012

DKI-1 2012: Popularitas Vs. Kekuatan Uang Vs. Solidaritas Kelompok, Siapa Menang?

Fauzi Bowo-Nahrowi Ramli
Pengamat politik dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Ari Dwipayana, mengatakan Pilkada DKI Jakarta adalah pertarungan antara popularitas dengan kekuatan uang dan solidaritas kelompok.

Menurut Ari, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) adalah satu-satunya pasangan yang mengandalkan modal besar dari segi popularitas. “Jokowi terkenal inovatif dan Ahok yang Chinese harapan baru bagi masalah multietnis di Jakarta. Mereka unik dan fenomenal,” kata Ari, Rabu, 21 Maret 2012.

Menurut Ari, Jokowi-Ahok terkenal pernah mengeluarkan kebijakan populis di Solo dan Belitung Timur sehingga secara personal tampak kreatif dan menjadi idola media. Namun, Ari mengingatkan, jalan bagi pasangan ini menuju DKI 1 dan DKI 2 belum tentu mulus. Sebab, dalam tradisi elektoral di Indonesia, popularitas tak selalu kongruen dengan elektabilitas figur. “Mereka tak punya uang. Itu kelemahannya,” kata Ari.

Jokwi-Ahok
Padahal, kata pengajar Program Pascasarjana Fisipol UGM ini, uang masih berperan kuat dalam kontestasi elektoral di Indonesia. Contohnya Alex Nurdin, calon dari Partai Golkar atau Fauzi Bowo, incumbent calon Partai Demokrat, memiliki modal yang tak dipunyai pasangan Jokowi-Ahok ini. “Golkar lebih memilih Alex ketimbang Tantowi yang lebih populer, pasti karena perhitungan logistik,” kata Ari.

Selain uang, Ari menambahkan, solidaritas kelompok keagamaan dan etnis juga masih menjadi tolak ukur kemenangan pilkada di banyak daerah. Kata dia, Fauzi Bowo memiliki kedekatan dengan kelompok Betawi, sedangkan Hidayat Nurwahid punya basis pendukung dari kelompok keagamaan yang kuat. “Jadi, semua partai besar usung calon dengan keunggulan berbeda,” kata Ari.

Alex Noerdin-Nono Sampono

Situasi ini, menurut Ari, bisa menjadi penentu perubahan model tradisi elektoral di Indonesia. Dia menilai, hasil pilkada ini akan membuktikan seberapa besar harapan masyarakat pada munculnya figur pemimpin alternatif yang memiliki citra kreatif dan punya ide-ide baru. “Semua tahu, Jakarta barometer nasional, hasil Pilkada DKI Jakarta pasti berpengaruh pada Pemilu 2014,” ujarnya.


Hidayat Nurwahid-Prof. Didik J Rachbini

ADDI MAWAHIBUN IDHOM

Sabtu, 11 Februari 2012

Pujian Abraham Samad Untuk Jokowi

Bukan hanya kalangan masyarakat luas yang memuji kepimpinan Joko Widodo alias Jokowi sebagai Wali Kota Solo. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad pun mengungkapkan kekagumannya terhadap Jokowi.

Pak Jokowi sungguh luar biasa sebagai kepala daerah, wali kota yang bisa memberi inspirasi bagi seluruh kepala daerah.

Pujian Ketua KPK untuk Jokowi sebagai sosok pemimpin yang memberi inspirasi pun dilontarkannya saat menghadiri acara diskusi yang digelar PDIP "Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan Daerah yang. Bebas Korupsi untuk Kesejahteraan Rakyat" di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (10/2/2012).


"Diantara kader-kader PDIP yang hadir di sini, ada birokrasi, ada yang gubernur, dan satu lagi apakah ada Pak Jokowi," tanya Abraham pada kader PDIP yang hadir saat itu.

"Pak Jokowi sungguh luar biasa sebagai kepala daerah, wali kota yang bisa memberi inspirasi bagi seluruh kepala daerah yang ada di Indonesia," sambungnya, setelah tahu Jokowi ada diantara orang-orang tersebut.

Abraham berharap Jokowi dapat menjadi teladan bagi kepala daerah di Indonesia yang anti korupsi dan membela rakyat kecil. Memperhatikan nasib rakyatnya. "Semoga semua pemimpin bisa meneladeni Pak Jokowi. Kalau semangat antikorupsi dan semangat pak Jokowi ditularkan ke seluruh Tanah Air, saya pikir perlahan-lahan negara ini menjadi baik, korupsi dapat dicegah," kata Abraham.

Seperti yang diketahui, di bawah kepemimpinan Jokowi, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto "Solo: The Spirit of Java". Jokowi mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka.

Selain itu, Jokowi juga memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik. Ia juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Tak hanya itu, pria yang meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985 ini juga turun langsung ke tengah masyarakat untuk melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka.



Selasa, 31 Januari 2012

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta An Nuur Budi Utama menjuarai kompetisi Wirausaha Muda Mandiri 2011 tingkat nasional

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta An Nuur Budi Utama menjuarai kompetisi Wirausaha Muda Mandiri 2011 tingkat nasional berkat usaha jasa penerbitan dan percetakan yang didirikannya.

"Usaha yang digawangi oleh mahasiswa Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik UGM itu berhasil menjadi juara pada kategori perdagangan dan jasa untuk kelompok mahasiswa," kata Ketua Bidang Kompetisi Center of Enterpreneur Development (CED) UGM Ibnu Wahid FA di Yogyakarta, Selasa (31/1/2012).

Menurut dia, An Nuur merupakan salah satu mahasiswa binaan CED UGM yang berhasil lolos dan menjadi jawara dalam kompetisi Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2011. CED UGM merupakan lembaga yang didirikan UGM untuk membina mahasiswanya dalam berwirausaha.

"Pada WMM 2011 tercatat sebanyak 3.741 pendaftar dari seluruh Indonesia yang mengikuti kompetisi yang terbagi dalam empat kategori untuk kelompok mahasiswa dan empat kategori kelompok alumni dan pascasarjana," katanya.

An Nuur mengatakan, ide bisnis yang ditekuninya saat ini berawal saat perekonomian keluarganya dalam situasi kebangkrutan. Kala itu orang tuanya gagal dalam pemilihan calon legislatif.

"Kondisi tersebut akhirnya mendorong saya untuk bisa hidup mandiri dan mulai membuka usaha jasa penerbitan dan percetakan," katanya.

Menurut dia, pada November 2009 dirinya memulai usaha jasa foto kopi dan percetakan. Dengan bermodal Rp 16,75 juta untuk membeli mesin percetakan dirinya membuka usahanya.

"Pada awal Januari 2010 saya mengembangkan bisnis dengan membuka usaha penerbitan dan percetakan buku pendidikan yang beroperasi dengan nama Dee Publishing," katanya.

Ia mengatakan, usaha yang dijalankan itu fokus mencetak dan menerbitkan buku-buku pendidikan seperti buku ajar, jurnal, dan buku panduan. Selain bahan kuliah, dirinya juga menerbitkan buku pendidikan untuk pelajar SMP dan SMA.

"Hingga saat ini percetakan itu telah menerbitkan sebanyak 142 judul buku. Beberapa buku yang telah diterbitkan adalah buku bahan kuliah ilmu teknik, peternakan, pertanian, sosial, kebidanan, dan kedokteran," katanya.

Menurut dia, buku-buku tersebut telah digunakan di sejumlah universitas antara lain UGM, Universitas Padjajaran, Universitas Pasundan, UPN Veteran Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia, Universitas Diponegoro, Akademi Kebidanan Muhammadiyah Cirebon, dan sejumlah sekolah di Salatiga dan Madiun.

"Usaha yang saya jalankan memang berbeda dengan penerbitan dan percetakan pada umumnya. Dee Publishing tidak memberikan batasan minimal cetak dalam setiap penawarannya," katanya.

Ia mengatakan, Dee Publishing mencetak buku berdasarkan pesanan. Buku-buku yang dicetak semuanya pasti terjual karena memang berdasarkan pesanan.

Dalam pemberian royalti, dirinya memberikan perlakuan yang berbeda. Dirinya memberikan royalti sebesar 25 persen, sedangkan penerbit pada umumnya hanya memberikan royalti sebesar 10 persen.

Selain itu, dalam menjalankan usaha, dirinya juga memfasilitasi para penulis buku dalam proses penulisan dengan memberikan panduan cara penulisan yang baik dan benar.

"Kini saya mempekerjakan tiga karyawan tetap dan tiga part timer atau paruh waktu. Omzet pada 2011 mencapai Rp 248 juta," katanya.

Kompas

Kamis, 05 Januari 2012

Jokowi & Esemka di Mata Para Akademisi

Pengamat politik J. Kristiadi menyatakan gebrakan Wali Kota Surakarta Joko Widodo menggunakan mobil Kiat Esemka buatan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan merupakan sindiran kepada pejabat yang masih suka mewah. "Dia ingin membuka mata pejabat lain agar sadar kalau mereka masih bersandar pada kemewahan," kata Kristiadi, peneliti senior Center for Strategic and International Studies ketika dihubungi di Jakarta, Rabu malam, 4 Januari 2012.

Keputusan Jokowi -- sapaan Joko Widodo -- menggunakan Kiat Esemka sebagai kendaraan dinas 'menampar' sebagian besar pejabat dan anggota DPR yang sering menggunakan mobil mewah. Kristiadi mengatakan, sindiran Jokowi terutama ditujukan pada pejabat negara yang suka menggunakan mobil mewah untuk kendaraan dinas. Pejabat yang sinis pada Jokowi, kata Kristiadi, berarti dia kena sindir.

Mobil Kiat Esemka merupakan produk rakitan siswa-siswa SMK 2 Surakarta bersama dengan Sukiyat, pemiliki bengkel Kiat Motor di Solo. Mobil ini dipesan Jokowi untuk menggantikan Toyota Camry yang sudah ia gunakan sebagai mobil dinas sejak 2005. Menurut dia, mobil yang biaya produksinya Rp 350 juta ini merupakan awal dari tumbuhnya industri mobil buatan anak bangsa. “Asal izinnya keluar dari Kementerian Perhubungan, peluangnya besar untuk diproduksi massal,” kata Jokowi.

Di mata Imam Prasodjo, sosiolog Universitas Indonesia, Jokowi merupakan fenomena cinta masyarakat terhadap pemimpin yang memiliki visi. Menurut Imam, mereka yang mengkritik Jokowi adalah orang tak punya visi jelas sebagai pemimpin. “Jokowi bukan orang yang ingin cari muka,” kata Imam menjawab kritik beberapa tokoh politikus..

Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana berpendapat senada. Ia menilai Jokowi merupakan simbol perlawanan terhadap elite lokal. Dia juga simbol melawan dominasi elite politik di Jakarta. “Ini dobrakan bagaimana memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat nasional," katanya.

EZTHER LASTANIA | FEBRIYAN | SUNUDYANTORO
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...