Manila -Tim mahasiswa dari Indonesia berhasil menyabet 7 gelar juara dalam lomba mobil teririt Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2014 di Manila, Filipina. Indonesia mendapat paling banyak juara dalam ajang bergengsi ini.
Pengumuman juara dilaksanakan di Manila Hotel, Rizal Park, Manila, Filipina, Minggu (9/2/2014). Saat pengumuman, nama Indonesia paling banyak disebut dan mendapat sambutan meriah.
Manajer Tim Sadewo Otto dari Universitas Indonesia, Pither Supermando mengaku bangga dan senang bisa menang dalam loma mobil teririt se-Asia ini.
Inspirasi, pencerahan dan pencerdasan.
Tampilkan postingan dengan label UI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UI. Tampilkan semua postingan
Senin, 10 Februari 2014
Indonesia Sabet 7 Gelar di Ajang Lomba Mobil Teririt se-Asia di Manila
Label:
7 Gelar,
Ajang,
Asia,
bensin,
biodiesel,
diesel,
ethanol,
Indonesia,
ITB,
ITS,
Lomba,
Manila,
Mobil Teririt,
Politeknik Negeri Pontianak,
Sabet,
UI,
UNS,
Urban Concept,
USU
Senin, 05 Maret 2012
Ternyata Memang Dhana Widyatmika: "Sang Lelaki di Pintu Sorga"

Lima tahun lalu, Majalah Tarbawi menulis sosok pria yang begitu luar biasanya merawat ibunya yang sedang sakit ginjal. Pria muda itu bernama Dhana Widyatmika. Nama yang sama dengan tersangka kasus rekening gendut pegawai Direktorat Jenderal Pajak.
Reporter Majalah Tarbawi, Widowati, yang lima tahun lalu mewawancarai pria itu membenarkan semua ciri dan data atau informasi pria yang diwawancarainya sama dengan ciri pria yang saat ini menjadi tersangka rekening gendut. Begitu juga dengan fotonya. Selengkapnya di sini.
Menurut Widowati, foto Dhana lima tahun lalu itu sama dengan tersangka kasus pajak. Kendati demikian, Widowati kepada VIVAnews berat memastikan bahwa itu adalah Dhana yang sama. Bagaimana dengan Dhana Widyatmika soal wawancaranya dengan Majalah Tarbawi lima tahun lalu?
Pengacara tersangka Dhana Widyatmika, Daniel Afredo membenarkan bahwa pria yang diwawancarai Majalah Tarbawi edisi khusus Ramadhan itu adalah kliennya yang saat ini menjadi tersangka. "Iya, itu Majalah Tarbawi benar tentang Dhana," kata Daniel dalam pesan tertulis kepada VIVAnews.
Daniel masih belum bisa bercerita banyak soal Dhana di Majalah Tarbawi, karena saat ini dirinya sedang ibadah pagi. Tulisan Majalah Tarbawi itu menceritakan perjuangan pria lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Indonesia itu yang merawat ibunya begitu gigih dan penuh pengorbanan.
Dalam satu tulisan, pegawai golongan IIIC yang menurut sumber VIVAnews rekeningnya mencapai lebih Rp30 miliar itu, sampai-sampai rela menadahkan tangannya untuk kotoran ibunya. "Memang begitulah pengabdian dia ke orangtuanya," kata Daniel.
Kejaksaan sejak Jumat malam 2 Maret 2012 ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung. Kejaksaan telah menyita sejumlah aset Dhana seperti 17 unit mobil truk darishowroom-nya, surat-surat berharga, logam mulia emas, satu unit mobil Daimler Chrysler, dan beberapa rekening.
Judul tulisan yang beredar di facebook dan twitter tertulis "Dhana Widyatmika, Lelaki di Pintu Surga." Widowati membenarkan bahwa tulisan itu merupakan hasil wawancara dirinya tapi, judul tulisan yang beredar di dunia maya itu salah. Judul aslinya "Meski Dalam Kondisi Sakit, Berkah dari Ridho Ibu Tidak Berubah." (eh)
VIVAnews
Label:
berat,
Daniel Afredo,
Dhana Widyatmika,
gendut,
ibu,
luar biasa,
majalah,
merawat,
pengorbanan,
perjuangan hukum,
rekening,
sakit ginjal,
STAN,
Tarbawi,
tersangka,
UI,
Widowati
Jumat, 24 Februari 2012
Siapakah DW, The Next Gayus?
Jakarta - Identitas mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) berinisial DW yang menjadi oknum 'The Next Gayus' terungkap juga. Inisial DW adalah Dhana Widyatmika. Dia telah dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) dan telah dicekal oleh Imigrasi.
Siapakah Dhana Widyatmika?
Berdasarkan beberapa sumber dan dokumen yang dikumpulkan detikFinance, Jumat (24/2/2012) diketahui Dhana Widyatmika merupakan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Setelah melanjutkan program sarjana, dia meneruskan studi pasca sarjana di Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Setelah lulus STAN, Dhana mulai bekerja di Ditjen Pajak pada tahun 1996. Karirnya berkembang terus. Pada 2011, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Dhana Widyatmika menjabat sebagai Account Representative pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam.
Kemudian, berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) nomor Kep-1439/PJ.01/UP.53/2011 yang dikeluarkan pada 12 Juli 2011, Dhana Widyatmika dipindahkan dari Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam ke Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Dua.
Dhana Widyatmika merupakan PNS golongan III/c dengan pangkat penata. Ia kini berusia 37 tahun.
Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Fuad Rahmany mengungkapkan 'The Next Gayus' ini tidak lagi menjadi pegawai pajak. Karena, atas keinginannya sendiri Dhana Widyatmika ini meminta pindah ke instansi lain.
"Yang jelas dia pindah atas keinginannya sendiri, saat dia minta ke-instansi lain ya kita ngasih aja, bukan karena ada kasus, kita sendiripun tidak tahu kalau dia berkasus. DW sendiri sudah lama bekerja disini tapi berapa lama tanya kebagian kepegawaian saja, yang jelas lebih lama dari pada saya," kata Fuad di Kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jumat (24/2/2012).
Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Humas, Dedi Rudaedi mengatakan "The Next Gayus' ini tidak lagi menjadi PNS Pajak sejak 12 Januari 2012. "DW sendiri sudah bukan pegawai kami, dia pindah ke Pemda DKI namun masih bekerja di bidang perpajakan yakni Dispenda DKI Jakarta," ujarnya.
Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan oknum 'The Next Gayus' berinisial 'DW' sebagai tersangka. Ia diduga melakukan tindak pidana korupsi. Hingga saat ini detikfinance belum bisa menghubungi Dhana Widyatmika untuk dikonfirmasi
sumber & kaskus
Siapakah Dhana Widyatmika?
Berdasarkan beberapa sumber dan dokumen yang dikumpulkan detikFinance, Jumat (24/2/2012) diketahui Dhana Widyatmika merupakan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Setelah melanjutkan program sarjana, dia meneruskan studi pasca sarjana di Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).
Setelah lulus STAN, Dhana mulai bekerja di Ditjen Pajak pada tahun 1996. Karirnya berkembang terus. Pada 2011, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Dhana Widyatmika menjabat sebagai Account Representative pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam.
Kemudian, berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) nomor Kep-1439/PJ.01/UP.53/2011 yang dikeluarkan pada 12 Juli 2011, Dhana Widyatmika dipindahkan dari Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam ke Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Dua.
Dhana Widyatmika merupakan PNS golongan III/c dengan pangkat penata. Ia kini berusia 37 tahun.
Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Fuad Rahmany mengungkapkan 'The Next Gayus' ini tidak lagi menjadi pegawai pajak. Karena, atas keinginannya sendiri Dhana Widyatmika ini meminta pindah ke instansi lain.
"Yang jelas dia pindah atas keinginannya sendiri, saat dia minta ke-instansi lain ya kita ngasih aja, bukan karena ada kasus, kita sendiripun tidak tahu kalau dia berkasus. DW sendiri sudah lama bekerja disini tapi berapa lama tanya kebagian kepegawaian saja, yang jelas lebih lama dari pada saya," kata Fuad di Kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jumat (24/2/2012).
Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Humas, Dedi Rudaedi mengatakan "The Next Gayus' ini tidak lagi menjadi PNS Pajak sejak 12 Januari 2012. "DW sendiri sudah bukan pegawai kami, dia pindah ke Pemda DKI namun masih bekerja di bidang perpajakan yakni Dispenda DKI Jakarta," ujarnya.
Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan oknum 'The Next Gayus' berinisial 'DW' sebagai tersangka. Ia diduga melakukan tindak pidana korupsi. Hingga saat ini detikfinance belum bisa menghubungi Dhana Widyatmika untuk dikonfirmasi
sumber & kaskus
Label:
10 PNS,
37 tahun,
Administrasi,
Dhana Widyatmika,
dicekal,
Dirjen Imigrasi,
Ditjen Pajak,
DW,
FISIPOL,
IIIc,
Kejagung,
penanaman modal asing,
penata,
STAN,
tersangka,
The Next Gayus,
UI,
wajib pajak besar
Kamis, 05 Januari 2012
Jokowi & Esemka di Mata Para Akademisi
Pengamat politik J. Kristiadi menyatakan gebrakan Wali Kota Surakarta Joko Widodo menggunakan mobil Kiat Esemka buatan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan merupakan sindiran kepada pejabat yang masih suka mewah. "Dia ingin membuka mata pejabat lain agar sadar kalau mereka masih bersandar pada kemewahan," kata Kristiadi, peneliti senior Center for Strategic and International Studies ketika dihubungi di Jakarta, Rabu malam, 4 Januari 2012.
Keputusan Jokowi -- sapaan Joko Widodo -- menggunakan Kiat Esemka sebagai kendaraan dinas 'menampar' sebagian besar pejabat dan anggota DPR yang sering menggunakan mobil mewah. Kristiadi mengatakan, sindiran Jokowi terutama ditujukan pada pejabat negara yang suka menggunakan mobil mewah untuk kendaraan dinas. Pejabat yang sinis pada Jokowi, kata Kristiadi, berarti dia kena sindir.
Mobil Kiat Esemka merupakan produk rakitan siswa-siswa SMK 2 Surakarta bersama dengan Sukiyat, pemiliki bengkel Kiat Motor di Solo. Mobil ini dipesan Jokowi untuk menggantikan Toyota Camry yang sudah ia gunakan sebagai mobil dinas sejak 2005. Menurut dia, mobil yang biaya produksinya Rp 350 juta ini merupakan awal dari tumbuhnya industri mobil buatan anak bangsa. “Asal izinnya keluar dari Kementerian Perhubungan, peluangnya besar untuk diproduksi massal,” kata Jokowi.
Di mata Imam Prasodjo, sosiolog Universitas Indonesia, Jokowi merupakan fenomena cinta masyarakat terhadap pemimpin yang memiliki visi. Menurut Imam, mereka yang mengkritik Jokowi adalah orang tak punya visi jelas sebagai pemimpin. “Jokowi bukan orang yang ingin cari muka,” kata Imam menjawab kritik beberapa tokoh politikus..
Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana berpendapat senada. Ia menilai Jokowi merupakan simbol perlawanan terhadap elite lokal. Dia juga simbol melawan dominasi elite politik di Jakarta. “Ini dobrakan bagaimana memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat nasional," katanya.
EZTHER LASTANIA | FEBRIYAN | SUNUDYANTORO
Keputusan Jokowi -- sapaan Joko Widodo -- menggunakan Kiat Esemka sebagai kendaraan dinas 'menampar' sebagian besar pejabat dan anggota DPR yang sering menggunakan mobil mewah. Kristiadi mengatakan, sindiran Jokowi terutama ditujukan pada pejabat negara yang suka menggunakan mobil mewah untuk kendaraan dinas. Pejabat yang sinis pada Jokowi, kata Kristiadi, berarti dia kena sindir.
Mobil Kiat Esemka merupakan produk rakitan siswa-siswa SMK 2 Surakarta bersama dengan Sukiyat, pemiliki bengkel Kiat Motor di Solo. Mobil ini dipesan Jokowi untuk menggantikan Toyota Camry yang sudah ia gunakan sebagai mobil dinas sejak 2005. Menurut dia, mobil yang biaya produksinya Rp 350 juta ini merupakan awal dari tumbuhnya industri mobil buatan anak bangsa. “Asal izinnya keluar dari Kementerian Perhubungan, peluangnya besar untuk diproduksi massal,” kata Jokowi.
Di mata Imam Prasodjo, sosiolog Universitas Indonesia, Jokowi merupakan fenomena cinta masyarakat terhadap pemimpin yang memiliki visi. Menurut Imam, mereka yang mengkritik Jokowi adalah orang tak punya visi jelas sebagai pemimpin. “Jokowi bukan orang yang ingin cari muka,” kata Imam menjawab kritik beberapa tokoh politikus..
Pengamat politik Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana berpendapat senada. Ia menilai Jokowi merupakan simbol perlawanan terhadap elite lokal. Dia juga simbol melawan dominasi elite politik di Jakarta. “Ini dobrakan bagaimana memperjuangkan kepentingan daerah di tingkat nasional," katanya.
EZTHER LASTANIA | FEBRIYAN | SUNUDYANTORO
Langganan:
Postingan (Atom)


