Senin, 05 Maret 2012

Tagihan Dhana Widyatmika Per Bulan Bisa Mencapai Rp 60-70 juta

Dhana Widyatmika berulang kali berkelit saat diperiksa Kejaksaan Agung pekan lalu. Para penyidik tak menyerah. Mereka memang menemukan dugaan menarik: Dhana pernah bekerja sama dengan Gayus Halomoan Tambunan. Karena itu, mereka memeriksa bekas accounting representative Kantor Pelayanan Wajib Pajak Besar II, Gambir, Jakarta Pusat, itu selama tujuh jam. Stamina lelaki berusia 38 tahun itu langsung anjlok.

Penyidik punya amunisi ampuh untuk membongkar kedok Dhana. Mereka telah mengantongi catatan transaksi dari akun jumbo Dhana. Laporan utama majalah Tempo berjudul Orang Pajak Taat Palak menyebutkan, dari catatan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), antara lain diketahui dia memiliki beberapa kartu kredit dengan plafon Rp 100-500 juta. Tagihan Dhana per bulan bisa mencapai Rp 60-70 juta. Padahal, gajinya saja tak sampai Rp 20 juta per bulan. (Baca: Rekening Tambun Teman Sejawat Gayus)

Duit Dhana tak hanya ngendon di dalam negeri. Pada Januari 2012, ditemukan duitnya dari sebuah bank swasta mengalir ke luar negeri. Sebesar Rp 7 miliar diinvestasikan untuk membeli saham di Hong Kong dan US$ 50 ribu buat membeli saham di Amerika. Lalu ada juga dana masuk US$ 250 juta dari Singapura. "Duit ini masih kami telusuri," kata sumber Tempo di kejaksaan tersebut.

Sebelumnya, hasil penggeledahan di kantor istri Dhana, Dian Anggraeni, menjadi "harta karun" bagi penyidik buat mengembangkan kasus itu. Dari dokumen dan data elektronik yang disita, pola kejahatan yang dilakukan Dhana mulai terungkap.

Dalam temuan itu, seorang penyidik mengatakan, Dhana pernah berkongsi dengan Gayus Tambunan mengakali kasus pajak PT Surya Alam Tunggal, perusahaan perikanan di Sidoarjo, Jawa Timur, medio 2007. Dhana diduga berperan sebagai penghubung perusahaan ini ke Gayus yang saat itu penelaah keberatan dan banding. Dengan "sentuhan Gayus", perusahaan yang seharusnya membayar pajak Rp 571 juta justru mendapat pengembalian senilai pajak itu.


Ternyata Memang Dhana Widyatmika: "Sang Lelaki di Pintu Sorga"


Lima tahun lalu, Majalah Tarbawi menulis sosok pria yang begitu luar biasanya merawat ibunya yang sedang sakit ginjal. Pria muda itu bernama Dhana Widyatmika. Nama yang sama dengan tersangka kasus rekening gendut pegawai Direktorat Jenderal Pajak.

Reporter Majalah Tarbawi, Widowati, yang lima tahun lalu mewawancarai pria itu membenarkan semua ciri dan data atau informasi pria yang diwawancarainya sama dengan ciri pria yang saat ini menjadi tersangka rekening gendut. Begitu juga dengan fotonya. Selengkapnya di sini.

Menurut Widowati, foto Dhana lima tahun lalu itu sama dengan tersangka kasus pajak. Kendati demikian, Widowati kepada VIVAnews berat memastikan bahwa itu adalah Dhana yang sama. Bagaimana dengan Dhana Widyatmika soal wawancaranya dengan Majalah Tarbawi lima tahun lalu?

Pengacara tersangka Dhana Widyatmika, Daniel Afredo membenarkan bahwa pria yang diwawancarai Majalah Tarbawi edisi khusus Ramadhan itu adalah kliennya yang saat ini menjadi tersangka. "Iya, itu Majalah Tarbawi benar tentang Dhana," kata Daniel dalam pesan tertulis kepada VIVAnews.

Daniel masih belum bisa bercerita banyak soal Dhana di Majalah Tarbawi, karena saat ini dirinya sedang ibadah pagi. Tulisan Majalah Tarbawi itu menceritakan perjuangan pria lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan Universitas Indonesia itu yang merawat ibunya begitu gigih dan penuh pengorbanan.

Dalam satu tulisan, pegawai golongan IIIC yang menurut sumber VIVAnews rekeningnya mencapai lebih Rp30 miliar itu, sampai-sampai rela menadahkan tangannya untuk kotoran ibunya. "Memang begitulah pengabdian dia ke orangtuanya," kata Daniel.

Kejaksaan sejak Jumat malam 2 Maret 2012 ditahan di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung. Kejaksaan telah menyita sejumlah aset Dhana seperti 17 unit mobil truk darishowroom-nya, surat-surat berharga, logam mulia emas, satu unit mobil Daimler Chrysler, dan beberapa rekening.

Judul tulisan yang beredar di facebook dan twitter tertulis "Dhana Widyatmika, Lelaki di Pintu Surga." Widowati membenarkan bahwa tulisan itu merupakan hasil wawancara dirinya tapi, judul tulisan yang beredar di dunia maya itu salah. Judul aslinya "Meski Dalam Kondisi Sakit, Berkah dari Ridho Ibu Tidak Berubah." (eh)

VIVAnews


Sabtu, 03 Maret 2012

Ulasan JAMU di Situs Time

Situs populer Time membuka ulasannya dengan kejadian tahun 1990, ketika wartawan Irlandia, Susan Jane-Beers, melihat sebuah klinik jamu di sudut Jakarta. Seorang "pasien" yang mengeluh nyeri lutut kronis karena usia, yang belum bisa disembuhkan oleh obat-obatan konvensional, pulih setelah beberapa kali minum jamu. Jane-Beers memutuskan untuk mencobanya.

Setelah tiga hari hanya mengonsumsi sepertiga dari dosis yang diresepkan, rasa sakit telah hilang. Ia terheran-heran dengan "kapsul ajaib" berisi ramuan herbal yang diberikan.

Setelah itu Jane-Beers menghabiskan sepuluh tahun meneliti asal-usul, mitos, dan resep dijaga ketat dan aplikasi komersial jamu di Jawa, di mana tanaman telah digunakan untuk tujuan pengobatan sejak zaman prasejarah. Hasilnya, tahun 2001 ia menerbitkan buku dalam bahasa Inggris, Jamu: The Ancient Art of Herbal Healing. Bukunya menjadi buku laris yang paling banyak dibaca di luar Indonesia sejak Herbarium Amboinense, katalog tanaman yang diselesaikan oleh ahli botani Jerman Georg Rumphius pada 1690, lebih dari tiga abad sebelumnya.

Jamu, tulis Time, menjadi sebuah terapi holistik berdasarkan pada pemikiran bahwa jika penyakit datang dari alam, biarkan alam pula yang menyembuhkan. Bahan-bahan alami secara definisi murah tersedia secara luas dan sederhana: pala untuk mengobati insomnia, jambu biji untuk diare, kapur untuk meningkatkan berat badan, dan kemangi untuk menghilangkan bau badan.

Jamu juga telah digunakan untuk mengobati kanker. Dalam bukunya, Jane-Beers menulis tentang dukun di Kota Yogjakarta yang berhasil menyembuhkan kasus kanker serviks terminal dengan teh yang terbuat dari sirih, ramuan tertentu, dan daun misterius bernama "benala". Dikombinasikan dengan diet kacang kedelai yang ketat, pasien dikatakan telah sembuh total dalam 18 bulan.

Terdengar masuk akal? Sebuah studi 2011 oleh Department of Food Science and Technology di Virginia Tech menemukan bukti yang menunjukkan ekstrak dari buah sirsak menghambat pertumbuhan kanker payudara. Sementara kunyit terbukti sebagai salah satu bagian pengobatan untuk Alzheimer.

"Kedokteran Barat mencoba menghancurkan kanker, tapi pada saat yang sama ia menghancurkan unsur-unsur tubuh lainnya. Jamu membantu tubuh memproduksi antibodi sendiri untuk melawan kanker dengan sendirinya," kata Bryan Hoare, manajer di MesaStila, retret kesehatan di Jawa Tengah. "Datang dari Bumi, jamu juga membuat Anda merasa baik dan mengalami perasaan positif."

Tapi jika jamu adalah peluru ajaib, mengapa tidak lebih dikenal di Barat, di mana obat-obatan Asia alam seperti sistem ayurveda India dan penyembuhan herbal Cina telah semakin populer selama bertahun-tahun?

Jawabannya dapat ditemukan di jalan-jalan Indonesia, di mana jamu dikonsumsi secara teratur oleh 49 persen dari populasi. Industri jamu Indonesia bernilai US$ 2,7 miliar, mulai dari pelangsing, kosmetik, hingga jamu untuk bayi dan ibu melahirkan.

"Indonesia mungkin telah geli ketika Viagra dirilis pada 1998," Jane-Beers berkomentar. Jauh sebelum Viagra, katanya, Indonesia sudah mengenal banyak varian obat kuat: pasak bumi, kuku bima, hingga minyak super ereksi. "Mereka memiliki solusi Sendiri selama bertahun-tahun."

Asal tahu saja, jamu kini mulai bertebaran di supermarket dan toko-toko di negara-negara seperti Inggris. Terobosan sudah dilakukan pengusaha spa di Melbourne, Australia, yang mengembangkan pijat asli Indonesia dengan dipadu ramuan yang mengandung kunyit, daun sirih, dan kulit telur. Ada juga ramuan lain yang membantu wanita mendapatkan kembali vitalitasnya dengan cepat, meningkatkan laktasi, dan menghilangkan angin, pusing, sakit, dan nyeri.

"Ini mengejutkan bahwa kini (jamu dan ramu-ramuan) telah tersebar di seluruh Australia," kata pasangan Jessica Koh. "Tapi mengherankan juga justru masih asing bagi sebagian besar penduduk setempat." DemikianTime menutup laporannya.

TRIP B


4 Pebisnis Wanita Paling Berpengaruh di Kawasan Asia (Majalah Forbes)

Majalah ekonomi terkemuka dunia,Forbes, merilis daftar 50 pebisnis wanita paling berpengaruh di kawasan Asia. Dari daftar tersebut, sebanyak empat orang wanita asal Indonesia masuk dalam jajaran itu.

Keempat Srikandi tersebut adalah Karen Agustiawan yang menjabat direktur utama PT Pertamina (Persero), Shinta Widjaja Kamdani (Managing Director Sintesa Group), Siti Hartati Murdaya (Presiden Direktur Central Cipta Murdaya), dan Wendy Yap (Presiden Direktur dan CEO PT Nippon Indosari Corpindo).

Seperti dikutip dalam laman Forbes, Kamis, 1 Maret 2012, para wanita tersebut dianggap berperan cukup signifikan dalam lingkungan bisnis yang dikelolanya. Beberapa di antara para pebisnis wanita ini merupakan pendiri dan telah memiliki peran penting dalam bisnis keluarga.

Selain itu, Forbes memasukkan para wanita yang berposisi sebagai eksekutif maupun manager profesional.

"Jika sebuah kesuksesan bisnis dilihat dari percampuran modal, ide, energi, dan kepemimpinan, para wanita ini merupakan kombinasi dari seluruh faktor itu," kata Forbesdalam laporannya.

Dalam daftar ini, Forbes membatasi para wanita yang memiliki peran besar dalam memupuk keuntungan perusahaan. Forbes sengaja tidak memasukkan para wanita yang memiliki peran besar dalam hal pengaruh di luar bisnis.

Perusahaan-perusahaan yang menjadi sumber penilaian Forbes kali ini mewakili korporasi yang memiliki pendapatan tahunan minimal US$100 juta per tahun.

Selain empat pebisnis wanita dari Indonesia, daftar Forbes kali ini didominasi oleh para wanita dari China yang memasukkan 21 warganya atau 42 persen. Disusul oleh Singapura sebanyak 4 orang (10 persen), Korea Selatan 4 orang (8 persen), Jepang 3 orang (6 persen), dan Australia dua orang (4 persen). (art)•



Selasa, 28 Februari 2012

Kronologis Pembakaran Informan Kepolisian: Judi Togel vs. Informan

Markas Besar Kepolisian RI mengklarifikasi pernyataan mereka sebelumnya, tentang kasus dibakarnya dua orang polisi di Sumatera Utara oleh warga. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution menyatakan, korban tersebut -- Ricardo Sitorus dan Siregar, bukan polisi, melainkan informan.

Saud kembali menjelaskan, pada 26 Februari 2012, sekitar pukul 20.00 WIB, Brigadir Albertus Sibua beserta empat orang informan, Ricardo Sitourus, Christian Siregar, MMP, dan BI.

"Pada hari Minggu jam 18.00 sore, diketahui informan atas nama Ricardo Sitorus mendapatkan telpon dari daerah Tuntungan, bahwa di dusun Laubekeri ada bandar togel sedang melakukan aktifitas," kata Saud dalam konfrensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa 28 Februari 2012.

Saud melanjutkan atas informasi tersebut anggota beserta rekannya dengan menggunakan kendaraan Kijang Innova BK 10 HK berangkat. Setelah tiba di Desa Laubekeri kemudian memantau kegiatan bandar togel berinisial K.

"Kemudian tidak beberapa lama mereka turun dan diteriaki maling oleh si bandar togel tersebut," ujarnya.

Kerumunan masyarakat yang berada di lokasi langsung bereaksi. Mereka langsung mengejar anggota polisi dan para informan tersebut. Melihat masa yang sangat besar, akhirnya mereka memutuskan masuk ke mobil untuk menghindar. Massa tak lantas berhenti, dengan 10 sepeda motor mereka menghadang mobil dan memaksanya berhenti.


Saat berhenti, massa menggoyang-goyangkan mobil dan menyuruh mereka turun dari mobil. Anggota Brigadir Abertus Sibua sempat mengatakan, bahwa dia polisi, tetapi masyarakat tidak percaya dan meminta si pengendara turun.

"Setelah turun mereka dipukuli. Tapi juga ada masyarakat yang menghubungi ke Polsek Kutalimbaru. Tiga orang termasuk Brigadir Albertus Sibua berhasil meloloskan diri ke arah hutan beserta dua orang informan berinisial MMP dan BI," kata Saud.

Sedangkan dua orang lainnya tertangkap dan dipukuli massa. Beberapa anggota intel dari Kutalimbaru datang sempat untuk membantu dua informan. Namun mereka tak berdaya, jumlah massa lebih besar.

Keduanya diseret dan masuk ke dalam mobil, kemudian massa menyulut api. "Kedua orang informan ini yakni Ricardo Sitorus dan Siregar terbakar," urai Saud.

Saud menuturkan, saat ini Polresta Medan sudah mengidentifikasi beberapa orang yang diduga menjadi pelaku penganiayaan dan pembakaran berdasarkan saksi, bukti rekaman dan adanya petugas yang ada di lapangan. "Ini sedang dalam pengejaran di lapangan. Ini merupakan suatu pelajaran bagi kita sekalian khususnya bagi Polri di dalam penindakan togel yang merupakan permainan perjudian yang dalam KUHP pasal 303," kata Saud.

Banyak tantangan untuk melenyapkan togel. Apalagi, banyak masyarakat yang menyukai judi ini. Dalam memberantasnya butuh risiko dan pengorbanan di lapangan. "Kami tanpa adanya informasi di lapangan sulit rasanya menumpas hal tersebut," ujar Saud.

Saud menambahkan, para bandar dan pemain menggunakan sarana handphone untuk melakukan kegiatan perjudian tersebut. "Ini juga evaluasi untuk tim di lapangan untuk bisa memperkirakan kondisi yang aman bagi petugas. Kalau dianggap resisten seharusnya tidak usah dipaksakan, sehingga bisa dikirimkan tim kesatu yang diturunkan, ini merupakan evaluasi kami," pungkasnya. (eh)

Jumat, 24 Februari 2012

Siapakah DW, The Next Gayus?

Jakarta - Identitas mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) berinisial DW yang menjadi oknum 'The Next Gayus' terungkap juga. Inisial DW adalah Dhana Widyatmika. Dia telah dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) dan telah dicekal oleh Imigrasi.

Siapakah Dhana Widyatmika?

Berdasarkan beberapa sumber dan dokumen yang dikumpulkan detikFinance, Jumat (24/2/2012) diketahui Dhana Widyatmika merupakan lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Setelah melanjutkan program sarjana, dia meneruskan studi pasca sarjana di Program Studi Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).

Setelah lulus STAN, Dhana mulai bekerja di Ditjen Pajak pada tahun 1996. Karirnya berkembang terus. Pada 2011, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Dhana Widyatmika menjabat sebagai Account Representative pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam.

Kemudian, berdasarkan keputusan Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) nomor Kep-1439/PJ.01/UP.53/2011 yang dikeluarkan pada 12 Juli 2011, Dhana Widyatmika dipindahkan dari Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Enam ke Kantor Pelayanan Pajak Wajib Pajak Besar Dua.

Dhana Widyatmika merupakan PNS golongan III/c dengan pangkat penata. Ia kini berusia 37 tahun.

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Fuad Rahmany mengungkapkan 'The Next Gayus' ini tidak lagi menjadi pegawai pajak. Karena, atas keinginannya sendiri Dhana Widyatmika ini meminta pindah ke instansi lain.

"Yang jelas dia pindah atas keinginannya sendiri, saat dia minta ke-instansi lain ya kita ngasih aja, bukan karena ada kasus, kita sendiripun tidak tahu kalau dia berkasus. DW sendiri sudah lama bekerja disini tapi berapa lama tanya kebagian kepegawaian saja, yang jelas lebih lama dari pada saya," kata Fuad di Kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jumat (24/2/2012).

Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Humas, Dedi Rudaedi mengatakan "The Next Gayus' ini tidak lagi menjadi PNS Pajak sejak 12 Januari 2012. "DW sendiri sudah bukan pegawai kami, dia pindah ke Pemda DKI namun masih bekerja di bidang perpajakan yakni Dispenda DKI Jakarta," ujarnya.

Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan oknum 'The Next Gayus' berinisial 'DW' sebagai tersangka. Ia diduga melakukan tindak pidana korupsi. Hingga saat ini detikfinance belum bisa menghubungi Dhana Widyatmika untuk dikonfirmasi

sumber & kaskus

PNS Kota Solo Wajib Mengenakan Pakaian Tradisional Setiap Kamis

Pemerintah Kota Solo, Jawa Tengah, mulai hari ini mewajibkan pegawai negeri sipil mengenakan pakaian tradisional setiap Kamis. Kebijakan yang mengedepankan budaya diterapkan Wali Kota Joko Widodo dan Wakil Walikota, Hadi Rudyatmo untuk mewujudkan obsesi "Solo Masa Depan Adalah Solo Masa Lalu" mengandung arti budaya yang sempat terpendam kini dimunculkan kembali.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...