Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Maret 2012

Demo Kenaikan Harga BBM, FORI: Puncaknya Akan Dilakukan Tanggal 29 Maret

Sejumlah demonstran berencana melakukan aksi lanjutan setelah demonstrasi hari ini. “Puncaknya akan dilakukan tanggal 29 Maret,” kata juru bicara Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI), Anwar Sastro Ma'ruf, saat dihubungi Selasa, 27 Maret 2012.

Anwar mengatakan telah menghubungi kelompok massa lain untuk melakukan aksi bersama pada 29 Maret. Tanggal tersebut dipilih karena rapat paripurna akan dilaksanakan pada hari itu.

Ia menargetkan untuk mengumpulkan sekitar 1.500 orang untuk berdemonstrasi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat. ”Demonstrasi tidak hanya berakhir hari ini, tapi akan terus berlanjut,” kata dia. Para demonstran, kata dia, dikumpulkan dari beberapa kota di sekitar Jakarta.

Hal senada juga dikatakan kelompok demonstran yang menamakan diri Indonesia Satu. Salah seorang aktivisnya, Andreas Soge, mengatakan kelompoknya akan bergabung dengan beberapa kelompok massa lain pada Kamis lusa. ”Kami akan melakukan aksi besar-besaran,” kata Andreas.

Kedua kelompok massa tersebut hari ini melakukan demonstrasi di dua tempat yang berbeda. FORI memfokuskan aksinya di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat.

Adapun kelompok Indonesia Satu mengklaim telah mengajak 300 orang untuk pawai dari Stasiun Gambir hingga ke Istana Negara. Rencananya, mereka akan bergabung dengan kelompok yang telah berkumpul di sana.

Indonesia Satu menuntut agar pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga bahan bakar minyak. “Jika tuntutan kami tidak dilaksanakan, maka kami akan melakukan penutupan zona ekonomi,” kata Andreas. Zona yang ia maksud, di antaranya, jalan tol serta pelabuhan.

RAFIKA


Minggu, 25 Maret 2012

Perhitungan BBM Versi Rieke Dyah Pitaloka

Anggota Komisi IX DPR-RI, Rieke Dyah Pitaloka mengingatkan 13 hari lagi adalah keputusan kenaikan harga BBM. Salah satu argumen SBY, kenaikan tersebut adalah untuk menyelamatkan APBN supaya tidak jebol.
"Saya menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar menolak kenaikan BBM, tolak BLT karena itu adalah muslihat agar subsidi dicabut, akibatnya SBY untung rakyat buntung!" tegas politisi PDIP ini

Ditambahkannya, Ada data yang tidak pernah SBY sampaikan kepada rakyat, hitungan yang sesungguhnya bahwa dengan tidak mengurangi subsidi dan tidak menaikan harga BBM sebetulnya APBN tidak jebol.

Rieke memaparkan data yang beliau kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari para ekonom yang tidak bermahzab neolib, sebagai berikut:
- Indonesia menghasilkan 930.000 barel per hari
- 1 barel = 159 liter
- Harga Minyak Mentah = 105 USD per barel
- Biaya Lifting + Refining + Transporting (LRT) = 10 USD per barel = (10/159) x Rp.9000 = Rp. 566 per Liter
- Biaya LRT untuk 63 miliar Liter = 63 miliar x Rp.566,- = Rp. 35,658 triliun
- Lifting = 930.000 barel per hari, atau
= 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun
- Hak Indonesia adalah 70 persen maka = 237,615 juta barel per tahun
- Konsumsi BBM di Indonesia = 63 miliar liter per tahun, atau dibagi dengan 159
= 396,226 juta barel per tahun
- Pertamina memperoleh dari Konsumen
= 63 miliar liter x Rp 4500,-
= Rp. 283,5 triliun
- Pertamina membeli dari pemerintah
= 237,615 Juta barel @USD 105 x Rp. 9000,- = Rp. 224,546 triliun
- Kekurangan yang harus diimpor
= Konsumsi BBM di Indonesia – Pembelian Pertamina ke pemerintah = 158,611 Juta barel
= 158,611 juta barel @USD 105 x Rp. 9000,- = Rp. 149,887 triliun

Menurutnya, setelah dihitung sedemikian rupa melalui data-data yang otentik, Rieke berkesimpulan :
1. Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 miliar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 triliun
2. Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 triliun
3. Pertamina membeli dari Pemerintah Rp. 224,546 triliun
4. Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,- = Rp. 35,658 Trilyun
5. Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 triliun
6. Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini di sebut “SUBSIDI”
7. Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia
= Rp. 410,091 triliun – Rp. 283,5 triliun
= Rp. 126,591 triliun
8. Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 triliun.
*Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat
9. Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
= Rp. 224,546 triliun – Rp. 126,591 triliun
= Rp. 97,955 triliun

"Artinya, APBN tidak jebol justru saya jadi bertanya, di mana sisa uang keuntungan SBY menjual BBM sebesar Rp. 97,955 triliun, itu baru hitungan 1 tahun. Di mana uang rakyat yang merupakan keuntungan SBY jual BBM selama 7 tahun kekuasaannya," ujar politisi yang akrab dipanggil Oneng ini.

Kamis, 23 Februari 2012

Menteri Keuangan Agus Martowardojo Meraih Penghargaan Sebagai Menteri Keuangan Terbaik Se-Asia Pasifik Dari "The Banker" Edisi Januari 2012

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Yudi Pramadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu menyebutkan editor senior majalah "The Banker" Brian Caplen berkesempatan menyerahkan langsung penghargaan tersebut kepada Menkeu pada 15 Februari 2012 lalu.

Majalah "The Banker" memberikan penghargaan tersebut karena menilai Agus Martowardojo berhasil dalam menyokong pertumbuhan ekonomi mencapai 6,46 persen dan membawa perubahan pada pelaksanaan anggaran dan perencanaan keuangan.

Kemudian dia dianggap berhasil meningkatkan iklim investasi di Indonesia serta mengatur anggaran secara hati-hati pada 2011.

Tahun ini merupakan ke-11 kalinya penghargaan tersebut diberikan dan pada tahun sebelumnya tercatat beberapa menteri keuangan di beberapa negara di dunia memperoleh penghargaan serupa.

Menkeu tersebut antara lain Menkeu India Pranab Mukherjee, Menkeu Pantai Gading Charles Koffi Diby, Sekretaris Keuangan Filipina Margarito Teves dan Menkeu Slowakia Jan Pociatek.

"The Banker" merupakan majalah keuangan internasional grup harian Financial Times yang pertama kali terbit Januari 1926 dengan Brendan Bracken sebagai editor pendiri dan berkantor di London, Inggris.

Berdasarkan hasil audit Audit Bereau of Cicrulations, sirkulasi majalah "The Banker" adalah lebih dari 28 ribu eksemplar dengan rata-rata 60 persen dari pembacanya adalah CEO/Presiden Direktur serta CFO/Bendahara dari berbagai perusahaan.

Majalah keuangan internasional ini memuat informasi di bidang keuangan dan premier banking, dibaca lebih dari 180 negara dan merupakan sumber utama data dan analisa industri tersebut.

Fokus utama "The Banker" adalah komentar dan pemahaman keuangan global, opini, profil dan wawancara dengan bank serta tokoh keuangan terkemuka.

Majalah ini juga menggabungkan liputan mendalam baik secara regional maupun negara melalui laporan pasar keuangan global, regulasi dan kebijakan, pelayanan cash management dan sekuritas, komoditas, infrastruktur, proyek, perdagangan dan teknologi, kliring dan pembayaran serta isu manajemen dan pemerintahan. 



Selasa, 07 Februari 2012

Peningkatan PDB Indonesia, 6,5% Tahun Lalu Bukan Penentu Peningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai 6,5 persen tahun lalu bukanlah penentu kesuksesan negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Peningkatan PDB di Indonesia malah justru membuat negara ini semakin miskin sumber daya.

Hal ini disampaikan oleh pakar ekonomi dan politik Amerika Serikat Lex Rieffel, Senin 30 Januari 2012. Dalam perbincangannya dengan VIVAnews, Rieffel mengatakan Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang mengalamiresource curse, atau keterpurukan di tengah sumber daya yang melimpah.

"Indonesia tidak menangani sumber daya alamnya dengan efektif. Pemerintah justru menghancurkan sumber alam dengan terlalu berlebihan dalam mengekploitasi, dan tidak mengalokasikannya untuk kepentingan rakyat secara keseluruhan," kata Rieffel, yang ahli soal sistem finansial global di Brookings Institution, lembaga riset kebijakan berbasis di Washington DC.

Dia mengatakan pemerintah Indonesia terlalu terfokus pada upaya meningkatkan PDB, tapi mengorbankan sumber daya alam. Statistik PDB yang diperbarui tiap kuartal, ujarnya, juga menyesatkan.

Dia mencontohkan penjualan gas alam hingga miliaran dari Indonesia ke luar negeri. Memang Indonesia untung banyak, sekaligus meningkatkan PDB, tapi kenyataannya gas yang merupakan kekayaan Indonesia akan hilang selamanya. Peningkatan PDB ini malah justru membuat negara semakin miskin.

"Hal ini membuktikan PDB tidak bisa meningkatkan kualitas hidup rakyat. Ada banyak bukti empiris dan studi yang menunjukkan kualitas hidup dan kebahagiaan rakyat tidak ada hubungannya dengan PDB dan kekayaan negara," kata Rieffel.

Hal yang perlu dilakukan Indonesia saat ini adalah melindungi sumber daya alam. Ketimbang menghamburkan uang membeli perangkat perang yang tidak ada gunanya, kata Rieffel, lebih baik menggunakannya untuk perlindungan sumber alam Indonesia yang telah banyak dirusak.

"Sumber hutan dan perikanan Indonesia telah rusak. Hutan digunduli untuk penanaman kelapa sawit. Ini bukan hanya tragedi bagi Indonesia, tapi tragedi bagi kemanusiaan," kata Rieffel.

Selain peningkatan PDB Indonesia, berbagai lembaga pemberi peringkat seperti S&P, Moody's dan Fitch Rating juga berlomba-lomba meningkatkan surat utang Indonesia ke tingkat investment grade pada awal tahun ini. Rieffel memandang miring pemeringkatan tersebut.

"Kamu percaya hal S&P, setelah kesalahan yang mereka lakukan terhadap Eropa? Tidak, badan pemberi rating adalah bagian dari sebuah sistem besar," kata Rieffel.(np)



Rabu, 18 Januari 2012

"Bila menghantam bola-bola itu, [kepala] pasti benjol", Tega Nian Dikau!

PT Kereta Api (KA) memasang gawang bola yang terbuat dari benton sepanjang enam meter, untuk menghalau penumpang nekat yang naik ke atap kereta ekonomi lokal dari Cikampek dan Purwakarta.

"Bila menghantam bola-bola itu, [kepala] pasti benjol," kata Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi I, Mateta Rizalulhaq, kepadaVIVAnews.com, kemarin.

"Dengan begitu ada dampak psikologi. Kami berharap penumpang bisa turun dengan cara itu."

Tujuan pemasangan gawang bola, agar penumpang yang bandel itu tak celaka, terjatuh dari kereta api yang melaju kencang. Apalagi, penumpang yang bertumpuk di atap juga mengganggu perjalanan kereta api.

Kebijakan tersebut tak hanya memicu polemik di dalam negeri, tapi juga marak diberitakan media asing ternama. Di antaranya, BBC, MSNBC, Daily Mail, Telegraph, Washington Post, CBS News, Fox News, juga Times LIVE.

BBC misalnya, memuat berita berjudul "Indonesia Concrete Balls Combat 'Train Surfing".Selain memuat statistik jumlah penumpang yang tewas akibat terjatuh dari atap kereta api, 53 orang di 2008 dan 11 orang pada 2011, BBC juga memuat pendapat penumpang yang terbiasa naik ke atap.

"Awalnya aku takut saat mendengar soal bola itu," kata Mulyanto. "Kedengarannya sangat berbahaya. Tapi tak akan bertahan lama. Mereka telah mencoba melakukan apapun agar kami tak naik ke atap kereta, namun toh akhirnya kami yang menang."

Tak ketinggalan kritik, bahwa akar permasalahan mengapa masih saja ada penumpang nekat memanjat ke atap adalah tak memadainya jumlah armada kereta api, juga pelayanannya yang buruk, sering terlambat.

Washington Post, dalam berita berjudul "New effort to keep Indonesian commuters off the roofs of trains: suspended concrete balls" menyebut, kebijakan itu 'ekstrem'. Bola beton itu bisa mencederai atau bahkan membunuh penumpang yang nekat.

Keberhasilan kebijakan ini juga dipertanyakan. Sebab, publik belum lupa cara yang diterapkan sebelumnya, yang gagal total: razia, semprotan cabai, mengerahkan anjing, pendekatan dari ulama, sampai cat semprot warna.

Tahun lalu, semprotan cat diprogram untuk menyemprot mereka yang naik ke atap kereta, sehingga petugas bisa mengidentifikasi mereka dan menindaknya. Namun, para penumpang atap justru merusaknya. Pendekatan ulama, tak digubris. Saat petugas polisi dikerahkan untuk menertibkan, mereka justru jadi sasaran lemparan batu.

Tak ketinggalan situs berita populer, Daily Mail, yang menurunkan berita berjudul, "Duck! Indonesia suspends grapefruit-sized concrete balls above railway lines to stop 'roof riders".

"Sekarang pihak berwenang di Indonesia mengembangkan taktik yang mengintimidasi, bahkan mematikan. Mendirikan gawang bola beton seukuran jeruk untuk menyapu penumpang di atap kereta," demikian tukilan isi artikel.• 



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...